Piramid di sekeliling kita

Waktu saya keluar dan berjalan meninggalkan bangunan separa oren-merah jambu di belakang saya petang semalam, di pagar-pagar geriji besi itu saya terlihat seorang manusia.

Yang tangannya separuh cepat separuh lambat, mencelek cat berwarna coklat di tiang batu yang baru keras beberapa hari lepas. Ya, ya, apartment saya diami sekarang 'ni dah semacam penjara (bak kata sebahagian pemandu teksi setiap kali saya naik teksi mereka) - pagarnya (meski tidak setebal tembok Konstantinople) yang mengelilingi ambang depan apartment kami itu memang serasa menyesakkan.

Tetapi, mungkin, lebih menyesakkan ialah pemandangan manusia yang bekerja menghasilkannya. 

Semalam, sewaktu saya melangkah masuk dan mahu mendaki tangga-tangga untuk ke tingkat atas, saya terfikir, kenapa tidak disudahkan siap-siap semua geriji-geriji besi ini (siap dicat, siap di-polish) sebelum dipasang? Abah saya pun serasanya akan mengecat semua gril yang ditempah sebelum dipasang - tetapi di sini, argh, sudah siap terpasang, seorang demi seorang datang mengecat. 

Dan hari ini, di rembang senja, ada lagi wajah-wajah yang sudah berkilat-kilat (kerana keringat) itu sedang tekun mengecat. Kerjanya mungkin baik sebab dilihat, tiang-tiang itu kemas sahaja sekata warnanya. 

Jalan-jalan saya menuju ke stadium (kerajaan negeri menyediakan juadah berbuka percuma) terisi perasaan nan berat.

"Tidakkah mereka juga penat?" 
"Apakah setimpal keringat mereka dengan bayaran mereka?"
"Oh, ya. Mungkin duit-duit itu mahu diberi kepada keluarga."
"Tapi muka yang sama dari pagi sampai malam...?"

Dan entah apa-apa jenis soalan yang meresahkan.

Saya jadi terungkit apa Ali Shariati tuliskan dalam 'Reflections of a Concerned Muslim on the Plight of Oppressed People' :

" It is true that each of us came from different geographical areas but these differences are inconsequential when viewed as a basis for dividing mankind... I had nothing but warm feelings and sympathy toward these oppressed souls. I felt so much hatred towards the great monuments of civilization which throughout history were raised upon the bones of my predecessors! 

My predecessors also built the great walls of China. Those who could not carry the loads were crushed under the heavy stones and put into the walls with the stones. This was how all the great monuments of civilization were constructed-at the expense of the flesh and blood of my predecessors!"

Bangunan besar-besar yang menjadi kemegahan, sebenarnya bukanlah seutuhnya simbol peradaban. Semalam sewaktu Dato Husam Musa menceritakan beberapa model tempat yang senibinanya mengandung maksud peradaban manusia, saya jadi rindu. 

Rindu - menurut Anisah Mai, yang kemudiannya diterjemah oleh Pak HAMKA - yang meletakkan duduk kekuasaan dan kemelaratan untuk tugu cita-cita kita berdiri.

Rindu, mungkin sebab hal itu telah tiada. Disebutkan, di Fes, ada taman-taman lemonnya yang setiap petang akan mengeluarkan aroma yang halus ke seisi kota. Sedang saya di sini, menikmati aroma lavender daripada manik-manik penyegar udara (jenama Tesco) untuk merasai terapi bau sebegitu. 

Kata Dr. Adi Setia, "Apa maknanya teknologi hijau, kalau awalnya yang hijau itulah yang sudah dibinasakan dahulu?"

Manusia melakukan fasad ke atas udara yang bersih, lalu kononnya menampilkan pendingin hawa yang menyegarkan untuk solusi udara tercemar itu. 

Fasad ke atas air nan persih, lalu ditawarkan solusi penapis air untuk air yang sihat digunakan.

Ironinya peradaban sebegini.

Petang itu, dengan perut yang sudah terisi dengan iftar, wajah lelaki tadi telah tiada tetapi cuma beralih ke tiang yang lain. Gelap malam yang semakin datang, terasa bingung sendiri.

"Apa harus aku lakukan?"

Di balik piramid peradaban Firaun, kita telah melihat mangsanya yang telah tertimbus di bawah bongkahnya. Yang kehilangan Tuhannya, dan kabut mencari Musanya. 

Lalu, siapa kita dalam kisah Musa dan Firaun ini?



Nota:

Mungkin, dan selalu juga saya perasan kedekatan hati saya ini (terutama dengan warga buruh, dan setiap kali nampak tapak bangunan mahu dibina) banyak disebabkan Abah saya juga bekerja seperti mereka. Kadang saya berangan, alangkah baik kalau saya ini anak seorang Professor (kononnya); tetapi dihitung-hitung, ni'mat Tuhan rupanya bersebab (meski manusia mungkin tidak direzekikan menyedarinya, kadangnya).

Comments

Popular Posts

KOLEKSI GOODREADS

The Humans Who Went Extinct: Why Neanderthals Died Out and We Survived
Recent Thought in Focus
God and Man in the Qur'an
The Positive Aspects of Tasawwuf: Preliminary Thoughts on an Islamic Philosophy of Science
A New System of Philosophy-Science from the Biological Standpoint
On Justice and the Nature of Man: A Commentary on Surah Al-Nisa' (4):58 and Surah Al-Mu'minun (23):12-14
The Natural and the Supernatural in the Middle Ages
God and Philosophy
From Satori to Silicon Valley: San Francisco and the American Counterculture
Islam and Secularism
Philosophy: The Essential Study Guide
Genesis and Development of a Scientific Fact
Representations of the Intellectual
Can Non-Europeans Think?
The Holocaust Industry: Reflections on the Exploitation of Jewish Suffering
Maus I: A Survivor's Tale: My Father Bleeds History
Slowness
The Architecture of Happiness
The New Rulers of the World
Seeds of Destruction: The Hidden Agenda of Genetic Manipulation


Nurshafira Noh's favorite books »