Pagi Selasa dan lukisan cantik-cantik

Pernahkah kau tarik bulu-bulu berus nan kasar dengan calitan cat minyak? Aku baru perasan bila merenung Starry Night (Van Gogh) hari itu, ia dilukis dengan cat minyak dan kuingat betapa untuk menarik bulu-bulu berus itu, sebetulnya berat. 

Catnya menahan kau daripada cepat-cepat mengangkat berusmu daripada kanvas. Berat; berbeza dengan cat air, ia pekat dan ia kurang mengalir. Lalu, bayangkan tangan Van Gogh menarik berusnya sewaktu melukis Starry Night mahupun kala Vanessa Bell melukis lukisan di bawah.

(The Memoir Club, 1943, Vanessa Bell)
Aku kenal Vanessa Bell melalui Duncan Grant, yang mana aku kenal melalui Keynes - Grant pernah melukis potret John Maynard Keynes yang sedang menulis (aku tahu pun sebab tengok dokumentari Commanding Height: The Battle for  the World Economy malam semalam). Pagi tadi, ku sengaja menatal nama Grant dalam enjin carian dan ku temui lukisan di atas yang menahan tatalanku. Grant, rupanya, teman kepada Bell itu. 

Melihat lukisan ini (meskipun, secara pesimisnya, hanya dalam alam maya), aku tertanya:

Adakah aku ke-borjeuisan kalau meminati lukisan seperti di atas dan seumpamanya? Membayangkan diri berjalan dalam ruang galeri lukisan (seperti pernah kubuat sewaktu di Galeri Shah Alam), kadang aku gusar jika terlalu mahu 'tinggi citarasa' (namun, hei, bukankah masyarakat bertamadun tinggi, ada citarasa tinggi?) dan tidak bersederhana (<- terlalu memikir pandangan orang sebetulnya?).

Namun, lukisan bukan tentang kaya atau miskin harta; lukisan, padaku, adalah sebuah kecantikan. Lukisan lain dengan gambar yang ditangkap dengan kamera - satu imej (atau realiti yang dilihat dengan mata) ditangkap oleh kamera, melalui dua medium (mata dan lensa kamera), tetapi imej yang dirakam dalam lukisan, ditangkap oleh mata seorang manusia dan tinggal dalam benaknya. Bell ada dalam lukisan di atas (bertopi, dan wanita solo selain wanita lain yang berteman ahli keluarga - Molly MacCarthy dan Lydia Keynes) sedangkan ia-lah si pelukisnya - apalagi kalau daya khayal yang menggerak ingatan pertemuan kelab itu (yang lalu Bell letakkan dirinya dalam duduk bual kumpulan lelaki itu). 

Dan kau perhati, Bell duduk membelakangkan audiensnya. Bukankah ada posisi lain yang boleh Bell bayangkan dirinya duduk atau posisi lain untuk membayangkan pertemuan ini - barangkali, daripada sisi McCarthy atau Keynes? Tetapi, ia memilih untuk dirakam seperti itu seolah ia tidak tahu ia sedang dirakam oleh seseorang di belakangnya. Cuba pula kaubayang, kalau lukisan ini terisi manusia yang fesyennya bernuansa sekarang - penuh kain satin berwarna merah pekat, dengan selendang satin bercorak berwarna emas, ada pula yang lelakinya berseluar maroon dan berbaju biru tua - hei, pasti lain nada yang sampai kepada fikiran dan hati, bukan?

Kelakar untuk merasakan lukisan sebegini. Ada kisah. Aku pernah konon asah lagi skil melukis (bukan bakat, mungkin, haha) tetapi nanti-nantilah. Lukisan harus belajar dirasai (selain belajar merasai cantiknya alam). Kata de Botton: 
"It is perhaps when our lives are at their most problematic that we are likely to be most receptive to beautiful things" (The Architecture of Happiness, muka 150)
Balik dari kelas hari ini atau sedang memandu ke mana-mana nanti, cuba kau ikuti alun sudut-sudut tajam dedaun hijau atau panjang-panjang urat selari dedaun itu; kau tak terikutkan kadangnya. Ia longlai melambai dan menari alon-alon di depan matamu, apa lagi senyap-senyap, daun yang kaumahu ikuti geraknya itu cepat pula sudah bercampur-campur dengan daun sebelah-menyebelahnya pula. Kalau tidak pun, lihat peluh-peluh yang perlahan menuruni lekuk wajah seorang Benggali yang bersila di tepi jalan, melekit-lekit, namun di sekitarnya laju sekali bergerak bersimpang-siur.

Layla itu ada pada dinding rumahnya, hanya pada mata seorang Majnun.


Dhuha yang sejuk.
Shah Alam.
11 Syawal 1436 (semalam, peliknya,
bulan sudah bulat?)

Comments

  1. Itu baru melihat lukisan cat minyak. Macam mana agaknya bila melihat karya kaligrafi....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts

KOLEKSI GOODREADS

The Humans Who Went Extinct: Why Neanderthals Died Out and We Survived
Recent Thought in Focus
God and Man in the Qur'an
The Positive Aspects of Tasawwuf: Preliminary Thoughts on an Islamic Philosophy of Science
A New System of Philosophy-Science from the Biological Standpoint
On Justice and the Nature of Man: A Commentary on Surah Al-Nisa' (4):58 and Surah Al-Mu'minun (23):12-14
The Natural and the Supernatural in the Middle Ages
God and Philosophy
From Satori to Silicon Valley: San Francisco and the American Counterculture
Islam and Secularism
Philosophy: The Essential Study Guide
Genesis and Development of a Scientific Fact
Representations of the Intellectual
Can Non-Europeans Think?
The Holocaust Industry: Reflections on the Exploitation of Jewish Suffering
Maus I: A Survivor's Tale: My Father Bleeds History
Slowness
The Architecture of Happiness
The New Rulers of the World
Seeds of Destruction: The Hidden Agenda of Genetic Manipulation


Nurshafira Noh's favorite books »